← Kembali ke Berita
INDERAJA
Vol 15 No 2 (2018)
PENGARUH TINGGI MUKA AIR GAMBUT SEBAGAI INDIKATOR PERINGATAN DINI BAHAYA KEBAKARAN DI SUNGAI JANGKANG - SUNGAI LIONG
Bencana kebakaran hutan dan lahan semakin menjadi perhatian. Sifat tanah gambut yang mudah kehilangan air dan memiliki kandungan bahan organik tinggi menyebabkan tanah gambut sangat sensitif terhadap kebakaran. Oleh karena itu, perlu diketahui indikator peringatan dini kebakaran di lahan gambut. Tujuan penelitian ini adalah menentukan tinggi muka air (TMA) kritis sebagai indikator kebakaran lahan gambut di Sungai Jangkang - Sungai Liong. Penentuan titik kritis kebakaran lahan gambut sebagai peringatan dini kebakaran dilakukan dengan menghitung selisih dari nilai TMA yang belum diketahui dengan rentang kemungkinan kesalahan. Nilai TMA diperoleh dari estimasi beberapa metode, yaitu data sifat fisik tanah, indeks kekeringan, dan kombinasi keduanya. Estimasi TMA dari sifat fisik tanah memiliki rentang kebakaran pada kedalaman 74,3 - 107 cm. Pada estimasi TMA menggunakan indeks kekeringan, kebakaran potensial terjadi pada TMA berkisar 27 - 101 cm. Sedangkan estimasi gabungan sifat fisik tanah dan indeks kekeringan berkisar 66,8 - 98,8 cm untuk kejadian kebakaran di lahan gambut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa estimasi TMA dari kombinasi data lapangan dan indeks kekeringan memberikan akurasi yang cukup baik. Dengan demikian TMA dapat menjadi indikator peringatan dini bahaya kebakaran lahan gambut. Estimasi TMA ini dapat memberikan hasil yang lebih cepat dan akurasi yang cukup baik. Namun model estimasi TMA ini tidak serta merta berlaku langsung untuk lokasi penelitian lainnya. Titik kritis kedalaman air tanah gambut berkisar antara 27 hingga 74 cm. Kedalaman permukaan lahan gambut sebaiknya dipertahankan kurang dari titik kritis, jika tidak maka potensi kebakaran lahan gambut akan meningkat.