← Kembali ke Berita
INDERAJA Vol 11 No 1 (2014)

METODE DETEKSI TERUMBU KARANG DENGAN MENGGUNAKAN DATA SATELIT SPOT DAN PENGUKURAN SPEKTROFOTOMETER STUDI KASUS: PERAIRAN PANTAI RINGGUNG, KABUPATEN PESAWARAN

Terbit: 2013/12/01
Muchlisin Arief
Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem yang spektakuler. Ekosistem ini menyediakan berbagai layanan ekosistem, termasuk perlindungan dari badai tropis, perikanan terumbu, peluang pariwisata, dan pengembangan obat-obatan baru. Terumbu karang adalah sumber daya laut yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan (perubahan kualitas air). Sangat penting untuk mengidentifikasi statusnya dan memantau perubahan area terumbu karang secara berkala. Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi dan pemantauan perubahan status sesering mungkin. Informasi ini sangat penting untuk konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini difokuskan pada identifikasi terumbu karang dengan menggabungkan informasi spektral yang diperoleh dari pengukuran langsung di lapangan dengan informasi band spektral dari penginderaan jauh satelit SPOT. Berdasarkan eksperimen, fungsi korelasi yang memiliki koefisien korelasi terbesar adalah fungsi yang diperoleh antara penjumlahan band (band1+band3) dengan penjumlahan spektral (spektral1+spektral3). Berdasarkan analisis, metode/algoritma yang dikembangkan dapat mengidentifikasi/mendeteksi terumbu karang dangkal/karang-1 (kedalaman kurang dari 1 meter) dan terumbu karang tidak dangkal/karang-2 (kedalaman lebih dari 1 meter). Hasil pengolahan menunjukkan bahwa terumbu karang-2 ditemukan di sepanjang pantai Ringgung, sedangkan berdasarkan perhitungan, di sekitar Pulau Tegal terdapat 49 ha terumbu karang-1, dan 116 ha terumbu karang-2, dan di sekitar gosong/pasir yang muncul di permukaan air (luas 320 m²), luas terumbu karang-1 adalah 12,38 ha dan terumbu karang-2 sekitar 42 ha.