← Kembali ke Berita
JPJI
Vol 6 No 1 (2027)
Analisis Pengaruh Tinggi Terbang UAV LiDAR Terhadap Akurasi Model Permukaan Pada Terrain Terjal Kawasan Pertambangan
Penelitian ini menganalisis pengaruh tinggi terbang UAV LiDAR terhadap akurasi model permukaan pada terrain terjal di kawasan pertambangan. Akuisisi data dilakukan pada ketinggian 100 m, 150 m, dan 200 m di atas permukaan tanah. Kerapatan titik dievaluasi menggunakan point density dan point spacing, sedangkan akurasi model permukaan dinilai berdasarkan Root Mean Square Error (RMSE) menggunakan Independent Control Point (ICP). Pada tinggi terbang 100 m, diperoleh RMSE horizontal radial (RMSEr) sebesar 0,064 m dan RMSE vertikal (RMSEz) sebesar 0,038 m. Pada tinggi terbang 150 m, RMSEr sebesar 0,071 m dan RMSEz sebesar 0,065 m, sedangkan pada tinggi terbang 200 m, RMSEr sebesar 0,071 m dan RMSEz sebesar 0,124 m. Peningkatan tinggi terbang menyebabkan penurunan point density dari 281,06 titik/m² menjadi 38,94 titik/m² serta peningkatan point spacing dari 5,96 cm menjadi 16,03 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi terbang lebih berpengaruh terhadap ketelitian vertikal dibandingkan ketelitian horizontal model permukaan. Berdasarkan Peraturan Kepala BIG Nomor 15 Tahun 2014, tinggi terbang 100 m dan 150 m memenuhi ketelitian Peta Rupabumi Indonesia (RBI) skala 1:1.000 kelas 1, sedangkan tinggi terbang 200 m memenuhi ketelitian skala 1:1.000 kelas 2. Seluruh variasi tinggi terbang yang diuji masih dapat digunakan untuk pemetaan topografi kawasan pertambangan dengan tingkat ketelitian yang berbeda. Tinggi terbang 200 m menghasilkan ukuran data paling kecil, yaitu 2,08 GB untuk data mentah dan 2,30 GB untuk point cloud, sedangkan tinggi terbang 100 m menghasilkan data mentah sebesar 5,70 GB dan point cloud sebesar 8,41 GB.